Setya Novanto merupakan salah satu dari ‘Pandawa Lima’ atau
lima tokoh paling berkuasa di Partai Golkar. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat itu
memiliki harta hingga puluhan miliar rupiah. Namun, beberapa pihak meyakini
aset dan kekayaan Novanto bahkan mencapai triliunan rupiah.
Politisi kelahiran Bandung, Jawa Barat itu terpilih sebagai
anggota DPR RI dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur. Sebelumnya Setya
Novanto menjabat sebagai ketua fraksi Golkar periode 2009-2014 dan juga
Bendahara Umum Partai Golkar. Ia telah menjadi anggota DPR sejak periode
1999-2004.
Sebelum terjun sebagai politisi, lulusan Fakultas Ekonomi
Universitas Trisakti itu dikenal sebagai seorang pengusaha. Namun Setya juga
pernah hidup susah sebelum menjadi miliuner. Masa-masa sulit itu dialaminya
setelah lulus dari SMA Negeri 9 Jakarta.
Dia melanjutkan kuliahnya di Surabaya, yakni di Universitas
Katolik Widya Mandala. Saat itu di bekerja sambilan sebagai pedagang beras dan
madu di Pasar Keputran, Surabaya. Setya juga pernah menjadi model dadakan dan
sales mobil. Semua dia lakukan untuk biaya hidup dan membayar uang kuliah.
Selepas kuliah di Surabaya, Setya Novanto kembali ke Jakarta
dan melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti. Selama
berkuliah di Jakarta, Setya Novanto tinggal menumpang di rumah sahabatnya,
Hayono Isman (politisi Partai Demokrat) di kawasan elite, Menteng.
Dia tak malu membantu pekerjaan di rumah sahabatnya itu
dengan mengurus kebun, menyapu, mengepel, hingga mencuci mobil. Berkat kerja
kerasnya, setelah lulus fakultas Ekonomi Trisakti, Setya dipercaya oleh
orangtua sahabatnya untuk mengelola sebuah SPBU di Cikokol, Tangerang.
Hingga akhirnya, Setya membangun perusahaan dalam bidang
perternakan, bahan baku tekstil, kertas, transportasi hingga bisnis hotel dan
lapangan golf bertaraf internasional. Kesuksesaan dalam berbisnis juga membawa
kesuksesan di bidang politik. Dia mulai terpilih sebagai anggota DPR dari
Partai Golkar empat periode berturut-turut sejak awal reformasi, tahun 1999.
Setya pun mengeruk keuntungan dari sejumlah bisnis yang ia
kembangkan di Nusa Tenggara Timur. Setelah terpilih menjadi anggota DPR, ia pun
membangun sejumlah asetnya di NTT.
Aset pertama adalah Novanto Center, di wilayah Kelapa Lima,
Kota Kupang. Gedung dua lantai itu dilengkapi dengan kolam renang. Di bagian
belakang Novanto Center dimanfaatkan sebagai rumah singgah ketika Setya
berkunjung ke NTT.
Kemudian, rumah tenun bagi warga NTT di Kelurahan Maulafa.
Istrinya, Deisti Novanto, menjadi penanggung jawab rumah tenun itu.
Ketiga, Hotel Bintang Lima di Labuan Bajo. Hotel bintang
lima di lahan seluas 3,5 hektare di Pantai Pede, Labuan Bajo, Manggarai Barat,
NTT. Nilai investasinya mencapai Rp120 miliar. Perusahaan milik Setya, PT Saran
Investama Manggabar, menjadi pemenang tender pembangunan lahan di Pantai Pede
itu. Namun, pemerintah dan masyarakat setempat menolak rencana pembangunan
tersebut. Oleh karena itu, pemerintah setempat akan menyewakan lahan itu ke
Novanto selama 25 tahun dengan nilai sewa sekitar Rp1,3 miliar.
Novanto juga memiliki sentra agrobisnis di Manusak,
Kabupaten Kupang. Serta Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Kawasan
Industri Bolok, Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Wilayah
ini terkenal dengan tanaman rumput laut dan pohon kayu putih.
Selain itu, izin pembangunan pabrik garam di NTT pun telah
dikantongi Setya.
Namun, kiprah Novanto di dunia politik tak selamanya mulus.
Ia sering disebut dalam sederet perkara hukum, mulai dari kasus Bantuan
Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) untuk Bank Bali, dugaan korupsi anggaran Pekan
Olahraga Nasional di Riau, dituding jadi orang yang mengongkosi penanganan
sengketa pemilihan Gubernur Jawa Timur di Mahkamah Konstitusi, diduga terlibat
korupsi Rp2,5 triliun pengadaan E-KTP, sampai dituding sebagai otak di balik
korupsi cost recovery dengan modus mark up EPC (equipment procurement
contruction) pada Blok Migas Kangean, Lapangan Terang – Sirasun – Batur,
senilai US$1,04 miliar atau Rp12 triliun.
Tapi hingga kini keterlibatan Novanto dalam sejumlah kasus
korupsi tersebut belum jelas. Ia hanya dipanggil sebagai saksi untuk memberikan
keterangan. Bahkan di beberapa kasus, namanya hanya disebut tanpa dilakukan
pemanggilan.

Komentar
Posting Komentar